PSG Juara Liga Champions 2026 Reaksi Fans dan Pemain Setelah Kalahkan Arsenal

Sepaklive - Paris Saint-Germain resmi menjadi juara Liga Champions UEFA 2025/26 setelah mengalahkan Arsenal lewat drama adu penalti 4-3, menyusul hasil imbang 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu. Final yang digelar di Puskás Aréna, Budapest, Hongaria, ini menjadi momen bersejarah bagi klub ibu kota Prancis tersebut: gelar Liga Champions kedua berturut-turut. PSG kini menjadi klub pertama sejak Real Madrid (2016–2018) yang berhasil mempertahankan trofi Liga Champions.
Jalannya Pertandingan Drama 120 Menit dan Adu Penalti
Arsenal tampil perkasa di awal pertandingan. Baru enam menit berjalan, Kai Havertz membungkam pendukung PSG dengan gol spektakuler—tendangan kiri yang melesat ke pojok atas gawang Matvey Safonov. Pria Jerman itu memang terkenal tampil besar di panggung besar, setelah sebelumnya membawa Chelsea menjuarai Liga Champions pada 2021.
PSG mendominasi penguasaan bola hingga 75%, tetapi pertahanan rapat Arsenal sulit ditembus. Perubahan terjadi di menit ke-65 ketika Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan oleh Cristhian Mosquera di dalam kotak penalti. Ousmane Dembélé, pemenang Ballon d'Or 2025, dengan tenang mengeksekusi penalti ke pojok kiri bawah sementara David Raya melompat ke arah yang salah. Skor menjadi 1-1.
Di menit ke-77, Kvaratskhelia nyaris menuntaskan drama saat tembakannya membentur tiang gawang setelah aksi individual gemilang, namun intervensi heroik Myles Lewis-Skelly menyelamatkan Arsenal.
Pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu tanpa gol tambahan, hingga akhirnya nasib trofi ditentukan lewat adu penalti. Nuno Mendes gagal mengeksekusi penalti untuk PSG, tetapi kegagalan Eberechi Eze dan Gabriel Magalhães dari pihak Arsenal menjadi penentu. Tendangan terakhir Gabriel yang melambung tinggi ke langit Budapest memicu ledakan kegembiraan di kubu PSG. Beraldo menjadi algojo terakhir yang memastikan kemenangan 4-3 dalam adu penalti.
Reaksi Pemain Kebanggaan dan Air Mata Kebahagiaan
Marquinhos — Kapten dan Jiwa Tim Kapten Marquinhos, yang untuk kedua kalinya mengangkat trofi "Si Kuping Besar", tak mampu menahan emosi. Dalam wawancara pasca-pertandingan, ia menyatakan:
"Ini luar biasa. Sejak hari pertama musim ini, pelatih bilang bahwa menang itu sulit, dan menang dua kali berturut-turut bahkan lebih sulit lagi. Jadi kami semua harus kembali bekerja keras. Itulah mentalitas kami." Marquinhos mengangkat trofi di tengah lapangan saat confetti emas dan kembang api memenuhi langit Puskás Aréna — sebuah pemandangan yang kini menjadi ciri khasnya sebagai pemimpin PSG di panggung Eropa.
Ousmane Dembélé — Sang Pahlawan Penalti Dembélé, yang mencetak gol penyama kedudukan lewat titik putih, menyebut malam itu sebagai "malam yang luar biasa." Golnya menjadikan total 20 gol sepanjang musim dalam semua kompetisi. Meskipun sempat terlihat kesakitan karena kram di akhir pertandingan, ia menegaskan bahwa kondisinya baik-baik saja.
Luis Enrique — Arsitek Dinasti Baru Pelatih asal Spanyol ini menyebut gelar kedua ini "bahkan lebih besar" dari pencapaian musim sebelumnya. Dengan kemenangan ini, Luis Enrique bergabung dengan jajaran elite pelatih peraih tiga trofi Piala Eropa/Liga Champions, bersama Carlo Ancelotti, Bob Paisley, Zinedine Zidane, dan Pep Guardiola.
Ini bahkan lebih besar karena kami tahu betapa sulitnya bermain melawan Arsenal, dan bagi kami sebagai tim dan kota, luar biasa rasanya memenangkan ini," ujar Luis Enrique kepada Canal Plus di tengah perayaan di lapangan.
Reaksi Fans Pesta Meriah dari Budapest hingga Paris
Euforia di Parc des Princes Ribuan suporter PSG yang menonton pertandingan melalui layar raksasa di Parc des Princes meledak dalam kegembiraan saat penalti terakhir Arsenal gagal. Suar merah dinyalakan, nyanyian kemenangan bergema, dan air mata kebahagiaan tumpah di markas besar klub.
Pawai Kemenangan di Menara Eiffel Pada hari Minggu, 31 Mei, puluhan ribu fans membanjiri jalanan Paris untuk menyambut kepulangan tim dari Budapest. Arak-arakan dimulai dari Bandara Charles de Gaulle menuju Champ de Mars di bawah bayangan Menara Eiffel. Bendera PSG berkibar di mana-mana, klakson mobil terus berbunyi, dan seluruh kota larut dalam perayaan. Presiden Prancis Emmanuel Macron turut memberikan ucapan selamat melalui media sosial, menyebut PSG sebagai "kebanggaan besar" bagi Prancis dan bahwa para pemain "membuat seluruh Eropa bermimpi."
Sisi Gelap Perayaan Sayangnya, perayaan juga diwarnai kerusuhan di beberapa titik di Paris dan kota-kota lain di Prancis. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez melaporkan bahwa 780 orang ditahan dan 57 petugas keamanan terluka — meskipun sebagian besar luka bersifat ringan. Beberapa kendaraan dibakar dan toko-toko dijarah oleh segelintir oknum. Namun, Nuñez menegaskan bahwa "sebagian besar perayaan berlangsung dengan damai." Perayaan resmi yang dijadwalkan di Champ de Mars tetap berjalan sesuai rencana pada Minggu sore.
Catatan Sejarah yang Tercipta
Kemenangan ini mengukuhkan sejumlah rekor dan catatan sejarah penting: PSG menjadi klub Prancis pertama yang tampil di tiga final Piala Eropa/Liga Champions, melampaui rivalnya Marseille dan Stade Reims. Back-to-back Champions — pencapaian yang terakhir kali dilakukan Real Madrid pada 2016–2018. Luis Enrique menyamai rekor pelatih legendaris dengan tiga gelar Liga Champions (satu bersama Barcelona, dua bersama PSG). Arsenal harus kembali menanggung kekecewaan di final Liga Champions, setelah sebelumnya kalah dari Barcelona pada 2006.
Malam di Budapest menjadi bukti bahwa proyek jangka panjang PSG di bawah kepemimpinan Luis Enrique telah membuahkan hasil nyata. Tanpa superstar seperti Messi, Neymar, atau Mbappé, PSG justru tampil sebagai kolektif yang solid dan tangguh secara mental. Dua gelar Liga Champions berturut-turut bukan sekadar keberuntungan — ini adalah bukti kerja keras, strategi, dan mentalitas juara.
Bagi fans PSG di seluruh dunia, malam 30 Mei 2026 akan selalu dikenang sebagai salah satu momen paling membanggakan dalam sejarah klub.
Baca Ulasan Seru Lainnya : Donald Trump Berencana Hadiri Final NBA 2026 di Madison Square Garden


